Anggaran bulanan yang disusun dari bulan terbaik mudah jebol di bulan sepi. Untuk pasangan yang penghasilannya naik turun, pegangan yang lebih aman adalah angka yang mendekati bulan terendah, bukan rata-rata.
Catat dulu pengeluaran yang tidak bisa ditawar, tentukan angka pegangan dari bulan-bulan sepi, lalu simpan selisih bulan ramai di satu “dompet penyangga” untuk menambal bulan sepi. Bisa dikerjakan berdua dalam satu malam, cukup kertas dan kalkulator. Semua angka di tulisan ini contoh buatan kami sendiri, bukan patokan.
Kenapa anggaran biasa sering gagal
Anggaran biasa mengandaikan uang masuk sama setiap bulan. Pada warung, jasa, atau kerja lepas, uang masuk berubah-ubah, sementara sewa, listrik, dan uang sekolah tetap jatuh tempo di tanggal yang sama. Kalau anggarannya dipasang pada angka terbaik, bulan sepi terasa seperti kegagalan, padahal yang keliru hanya cara menghitungnya.
Cara di bawah ini murni saran dari redaksi, bukan hasil penelitian. Prinsip dasarnya sederhana: catat pemasukan dan pengeluaran secara rutin, dan pisahkan uang pribadi dari uang usaha.
Tiga langkah, berdua, satu malam
Pertama: tulis yang tidak bisa ditawar
Duduk berdua dan tulis semua pengeluaran yang tetap datang walau bulan sedang sepi: sewa atau cicilan rumah, listrik dan air, makan, transportasi, uang sekolah, dan cicilan lain. Jumlahkan. Itu batas bawah Anda. Penghasilan di bawah angka ini berarti Anda berdua harus mengambil dari simpanan.
Kedua: ambil angka pegangan dari bulan-bulan sepi
Kumpulkan penghasilan bersih berdua selama enam bulan terakhir. Kalau punya catatan lebih lama, lebih baik. Lihat bulan terendah dan rata-ratanya, lalu pilih angka pegangan yang mendekati bulan terendah. Berikut contoh buatan kami, hanya untuk memperlihatkan caranya.
| Contoh penghasilan bersih berdua | Jumlah | Selisih dari angka pegangan Rp4.000.000 |
|---|---|---|
| Bulan 1 | Rp5.200.000 | +Rp1.200.000 |
| Bulan 2 | Rp3.800.000 | −Rp200.000 |
| Bulan 3 | Rp6.500.000 | +Rp2.500.000 |
| Bulan 4 | Rp4.100.000 | +Rp100.000 |
| Bulan 5 | Rp7.000.000 | +Rp3.000.000 |
| Bulan 6 | Rp4.600.000 | +Rp600.000 |
Rata-rata enam bulan di contoh ini Rp5.200.000, bulan terendahnya Rp3.800.000. Kami memilih Rp4.000.000 sebagai pegangan karena dekat dengan bulan terendah. Selisih bulan ramai masuk ke dompet penyangga, dan dari enam bulan itu terkumpul Rp7.200.000 setelah Rp200.000 diambil untuk menambal bulan 2.
Satu syarat: angka pegangan harus tetap di atas pengeluaran wajib dari langkah pertama. Kalau tidak, yang perlu dibicarakan lebih dulu bukan anggaran, melainkan cara menambah penghasilan atau menurunkan pengeluaran tetap.
Ketiga: bagi angka pegangan ke beberapa pos
Dengan pegangan Rp4.000.000, pembagiannya bisa seperti contoh di bawah. Setiap keluarga punya kebutuhan sendiri, jadi ubah angkanya sesuka Anda.
| Contoh pembagian Rp4.000.000 | Jumlah | Isi |
|---|---|---|
| Kebutuhan pokok | Rp2.600.000 | Makan, listrik, air, transportasi |
| Tagihan dan cicilan | Rp700.000 | Sekolah, cicilan, pulsa |
| Cadangan | Rp300.000 | Masuk dompet penyangga setiap bulan |
| Kebutuhan lain dan hiburan | Rp400.000 | Sisa untuk keinginan berdua |
Bulan yang penghasilannya melebihi angka pegangan, selisihnya masuk dompet penyangga, bukan ke belanja tambahan. Bulan yang kurang, ambil selisihnya dari dompet penyangga.
Kalau penghasilan datang dari usaha berdua
Ada satu langkah sebelum tiga langkah di atas: tentukan “gaji” yang dipindahkan dari kas usaha ke dompet rumah. Angka pegangan tadi adalah gaji itu. Dengan begitu uang usaha tidak habis untuk belanja dapur, dan uang dapur tidak terambil untuk stok. Cara memisahkannya dibahas di Uang Usaha dan Uang Rumah Tercampur?, dan kesepakatan lain yang layak dibicarakan ada di Suami Istri Berbisnis Bersama?
Tiap bulan, cukup tiga pertanyaan
- Apakah pengeluaran wajib berubah? Kenaikan sewa atau uang sekolah menggeser batas bawah.
- Berapa isi dompet penyangga? Kalau sudah cukup menutup tiga bulan angka pegangan, boleh dibicarakan apakah sebagian dipakai untuk tujuan lain. Ini bahan obrolan, bukan aturan.
- Satu hal apa yang ingin diubah bulan depan? Satu saja, supaya tidak jadi beban.
Kalau Anda ingin memperdalam pengelolaan keuangan usaha kecil, silakan membaca artikel OJK tentang pengelolaan keuangan bagi pelaku UMKM.
Tulisan ini pengetahuan umum untuk membantu Anda berdua berdiskusi, bukan nasihat keuangan, dan tidak merekomendasikan produk bank, investasi, pinjaman, asuransi, atau aplikasi tertentu.
Tulisan lain tentang uang berdua ada di topik Keuangan Keluarga, dan pertanyaan untuk malam hari terkumpul di seri Obrolan Malam Berdua.
Akhir bulan, Sari menumpuk nota di meja dapur sementara Bayu menghitung uang receh dari toples. Bulan ini warung sepi, dan keduanya tahu itu tanpa perlu dibicarakan.
“Bulan lalu kita bisa beli sepatu Naya, bulan ini rasanya kurang,” kata Sari.
“Bulan lalu juga ramai.” Bayu menyusun uang kertas jadi tumpukan. “Mungkin salahnya kita pakai semuanya waktu ramai.”
Sari mengambil kertas dan menulis angka. “Mulai bulan depan, pegangannya yang bulan sepi. Selebihnya masuk toples ini.”
“Toples receh?”
“Toples penyangga. Namanya biar kedengaran penting.”
Bayu tertawa, lalu menatap kertas itu lama. “Kalau bulan depan sepi lagi?”
“Ambil dari toples. Kalau toples kosong, kita duduk lagi.”
“Duduk dan ngomong, bukan saling tuduh.”
“Iya. Bukan saling tuduh.” Sari menulis tanggal di pojok kertas. “Sepakat?”
Bayu menaruh uang receh terakhir ke dalam toples. Bunyinya pelan. “Besok aku catat penghasilan hari ini,” katanya. “Biar bulan depan kita tidak menebak-nebak.”
Sari tersenyum dan menutup toples itu. Malam itu terdengar lebih tenang dari biasanya.
- Pengeluaran apa yang menurutmu tidak boleh dikurangi walau bulan sedang sepi?
- Berapa angka pegangan yang terasa cukup tenang untuk kita berdua?
- Kalau toples penyangga kosong, apa yang kita lakukan lebih dulu?
- Satu hal apa yang ingin kamu ubah dalam cara kita memakai uang bulan depan?