Uang Usaha dan Uang Rumah Tercampur? Begini Cara Memisahkannya

Arus kas yang tercampur antara uang pribadi dan uang usaha menyulitkan pemilik usaha menghitung biaya operasionalnya. Pada suami istri yang berusaha berdua, hal ini sering terjadi tanpa disadari karena dapur dan usaha memakai satu laci.

Jawaban Singkat

Memisahkan uang usaha dan uang rumah bisa dimulai dari lima langkah: catat dulu seberapa tercampur uangnya, sediakan dua wadah yang jelas, tetapkan “gaji” dari usaha ke rumah, catat setiap pinjaman antar dompet, lalu tinjau tiap bulan. Tidak perlu aplikasi atau rekening baru untuk memulai; dua amplop atau dua buku catatan sudah cukup.

Kenapa uang usaha dan uang rumah mudah tercampur

Pada usaha rumahan, uang jualan hari ini sering langsung dipakai untuk belanja dapur besok, sementara uang belanja kadang ikut dipakai membeli stok. Selama usaha jalan, hal ini terasa tidak bermasalah. Masalah baru terlihat ketika bulan sepi tiba dan tidak ada yang tahu uangnya ke mana: usahanya yang merugi, atau uangnya terpakai untuk keperluan lain?

Karena itu pencatatan uang pribadi dan uang usaha sebaiknya dipisahkan. Salah satu caranya: pemilik menggaji dirinya sendiri, sehingga kebutuhan pribadi dicatat dari pos gaji itu. Sebaiknya suami dan istri sama-sama memahami pemisahan ini, bukan hanya salah satu.

Lima langkah, dari yang paling ringan

Pertama: catat dua minggu apa adanya

Jangan langsung merapikan. Selama dua minggu, tulis setiap uang yang keluar dan masuk beserta tujuannya: untuk usaha atau untuk rumah. Tujuannya melihat seberapa sering keduanya tercampur, bukan mencari siapa yang salah.

Kedua: sediakan dua dompet yang jelas

Wadah bisa dua amplop, dua laci, dua toples. Yang penting setiap rupiah punya alamat: uang usaha dan uang rumah. Kalau sudah perlu memakai rekening, pilih sesuai kebutuhan Anda. Untuk tahap awal belum perlu menggunakan rekening bank karena akan merepotkan, terkecuali kebanyakan transaksi sudah menggunakan rekening bank atau transaksi di usaha Anda membutuhkan QRIS atau transfer keluar masuk.

Ketiga: tetapkan “gaji” dari usaha ke rumah

Sepakati berapa yang dipindahkan dari wadah usaha ke wadah rumah, dan kapan. Misalnya sekali sebulan atau sekali seminggu. Cara menghitungnya dibahas di Suami Istri Berbisnis Bersama?, dan cara menyusun anggaran dari gaji itu ada di Cara Membuat Anggaran Bulanan Berdua Saat Penghasilan Tidak Tetap. Di luar jadwal itu, uang usaha tidak dipakai untuk keperluan rumah.

Keempat: catat bila terpaksa meminjam antar wadah

Kadang uang rumah habis dan uang usaha terpaksa dipakai, atau sebaliknya. Itu wajar. Yang tidak boleh terjadi adalah meminjam tanpa catatan. Tulis tanggal, jumlah, dan kapan dikembalikan, supaya angka bulanan tetap jujur.

Kelima: tinjau berdua tiap bulan

Satu malam dalam sebulan, lihat catatan berdua: apakah gaji sudah dipindahkan, apakah ada pinjaman yang belum kembali, dan apakah usaha masih menyisakan untuk stok. Satu catatan sederhana lebih berguna daripada pembukuan lengkap yang tidak pernah dibuka.

Cek cepat: seberapa tercampur uang Anda

Yang terjadi Artinya Langkah yang paling membantu
Uang belanja dapur diambil dari laci usaha tanpa dicatat Biaya usaha tampak lebih kecil dari kenyataan Langkah kedua dan ketiga
Stok dibeli memakai uang belanja Uang rumah menutup usaha Langkah keempat
Tidak ada yang tahu untung bulan ini Catatan belum ada atau tercampur Langkah pertama
Selalu bertengkar saat laci kosong Belum ada kesepakatan tentang uang Langkah ketiga dan kelima

Kalau Anda ingin memperdalam pengelolaan keuangan usaha kecil, silakan membaca artikel OJK tentang pengelolaan keuangan bagi pelaku UMKM.

Tulisan ini pengetahuan umum untuk membantu pasangan berdiskusi, bukan nasihat keuangan atau hukum.

Tulisan lain tentang uang berdua ada di topik Keuangan Keluarga, dan pertanyaan untuk malam hari terkumpul di seri Obrolan Malam Berdua.

Cerpen Malam Berdua

Sari menuangkan isi laci ke meja dapur. Uang kertas, receh, dan satu nota yang sudah lecek. Bayu mengambil dua amplop bekas dan menulis dengan spidol: USAHA dan RUMAH.

“Tadi pagi aku ambil tiga puluh ribu dari laci buat beli sayur,” kata Sari.

“Itu laci yang mana?”

“Itu dia. Aku juga tidak yakin.”

Bayu tertawa pelan. “Berarti selama ini kita tidak pernah tahu warung untung atau tidak.”

“Aku tahu rasanya selalu kurang, dan itu bikin aku was-was tiap akhir bulan.”

“Rasa itu bukan angka.”

Sari mengangguk, lalu memasukkan uang jualan hari itu ke amplop USAHA. Uang belanja masuk ke amplop RUMAH. Hasilnya terlihat sederhana, nyaris terlalu sederhana.

“Kalau kurang?” tanya Bayu.

“Pinjam dari amplop lain, tapi ditulis di sini.” Sari menunjuk nota lecek itu. “Biar tahu ke mana perginya.”

Bayu menyelipkan spidol ke telinga. “Satu amplop untuk kerja, satu untuk hidup.”

“Jangan dibalik,” kata Sari. Keduanya tertawa, dan malam itu dapur terasa jauh lebih rapi dari biasanya.


Obrolan Malam Ini
  • Uang rumah apa yang paling sering terambil dari laci usaha di tempat kita?
  • Menurutmu, berapa “gaji” yang masuk akal dari usaha ke rumah tiap bulan?
  • Kalau salah satu terpaksa meminjam antar amplop, bagaimana caranya supaya tetap tercatat?
  • Kapan waktu yang enak bagi kita untuk meninjau catatan sebulan sekali?