Suami Istri Berbisnis Bersama? 5 Hal yang Perlu Disepakati

Penelitian pada pasangan pemilik usaha pertanian di Amerika Serikat mengaitkan ketegangan karena usaha dengan kepuasan istri yang lebih rendah terhadap pasangannya. Lima hal di bawah ini layak dibicarakan sejak awal, sebelum ketegangan itu muncul di meja makan.

Jawaban Singkat

Suami istri yang berusaha bersama paling terbantu oleh lima kesepakatan: siapa mengerjakan apa, berapa “gaji” yang diambil dari usaha, kapan urusan usaha berhenti dan urusan rumah mulai, siapa yang memutuskan hal besar, dan kapan usaha ditinjau. Semuanya bisa dibicarakan dalam satu atau dua malam, lalu ditulis di satu lembar kertas. Hasilnya tidak harus sempurna; yang penting Anda berdua tahu apa yang sudah disepakati.

Lima hal yang layak disepakati berdua

1. Siapa mengerjakan apa, dan siapa menggantikan bila berhalangan

Tinjauan atas 71 artikel penelitian tentang usaha yang dijalankan pasangan menyebut pembagian kuasa antara suami dan istri sebagai area yang masih perlu diteliti. Artinya tidak ada rumus baku. Yang ada biasanya kebiasaan yang dibiarkan tanpa dibicarakan, lalu terasa tidak adil bagi salah satu pihak.

Cara paling sederhana: tulis semua pekerjaan usaha, dari belanja bahan sampai membalas pesan pelanggan, lalu tulis siapa yang memegang dan siapa penggantinya.

Ilustrasi pembagian pekerjaan Dipegang Pengganti bila berhalangan
Belanja bahan ke pasar Suami Istri
Menerima dan mencatat pesanan Istri Suami
Mengantar pesanan Suami Istri atau jasa antar
Mencatat uang masuk dan keluar Istri Suami

Isi tabel itu hanya ilustrasi. Yang paling penting kolom ketiga: pekerjaan tanpa pengganti biasanya baru ketahuan penting ketika salah satu sakit.

2. Berapa “gaji” yang diambil dari usaha

Uang usaha dan uang pribadi sebaiknya dicatat terpisah, karena arus kas yang tercampur menyulitkan Anda menghitung biaya usaha yang sebenarnya. Salah satu caranya: pemilik “menggaji” dirinya sendiri, sehingga kebutuhan pribadi diambil dari pos gaji itu, bukan langsung dari kas usaha.

Pada usaha berdua ada satu hal tambahan yang perlu disepakati: besarnya gaji untuk rumah tangga, dan kapan gaji itu dipindahkan ke dompet rumah. Pastikan Anda berdua sama-sama paham cara pemisahannya, bukan hanya salah satu yang mengurus uang.

Contoh (angka buatan kami, hanya untuk memperlihatkan caranya): bila untung usaha bulan ini Rp6.000.000, pasangan bisa sepakat memindahkan Rp4.500.000 ke dompet rumah sebagai “gaji” berdua dan menyisakan Rp1.500.000 di usaha untuk stok dan cadangan. Berapa persen yang pas bergantung pada kebutuhan rumah dan kondisi usaha Anda; tidak ada persentase yang berlaku untuk semua.

3. Kapan urusan usaha berhenti di pintu rumah

Pada usaha rumahan, dapur, ruang tamu, dan meja makan sering menjadi tempat kerja sekaligus tempat keluarga berkumpul. Peneliti menyebut batas antara rumah dan usaha sebagai area yang belum banyak dipetakan pada usaha pasangan, jadi kesepakatannya memang harus dibuat sendiri.

Saran kami, bukan temuan penelitian: tentukan satu jam yang bebas urusan usaha, misalnya selama makan malam, dan satu hari dalam seminggu ketika pesanan hanya dibahas kalau benar-benar mendesak. Jam bebas itu juga menjaga obrolan berdua dari berubah menjadi rapat harian.

4. Siapa yang memutuskan hal besar

Soal ini tidak punya rujukan penelitian yang cukup untuk dijadikan aturan, jadi lebih jujur disebut bahan obrolan. Pertanyaan yang bisa dijawab bersama: pembelian atau pinjaman sebesar berapa yang diputuskan berdua? Siapa yang boleh menyetujui pesanan besar atau potongan harga tanpa menunggu yang lain?

Menetapkan batas nominal di kertas lebih ringan daripada berdebat setiap ada keputusan. Di bawah batas itu, siapa pun yang memegang pekerjaannya boleh memutuskan sendiri.

5. Kapan usaha ditinjau, dan apa tandanya perlu diubah

Tinjau usaha secara berkala, dan kaitkan target omzet dengan kebutuhan pribadi: berapa penjualan yang dibutuhkan supaya gaji rumah tangga bisa keluar? Pada usaha berdua, tinjauan itu sebaiknya dilakukan berdua di jam yang sudah disepakati, bukan sambil melayani pembeli.

Siapkan juga pertanyaan yang tidak enak sebelum keadaannya genting: kalau beberapa bulan berturut-turut gaji tidak bisa dikeluarkan, apa yang dilakukan lebih dulu, mengurangi biaya, mencari penghasilan tambahan, atau mengubah usahanya? Jawabannya tidak harus sekarang, tetapi pertanyaannya perlu pernah dibicarakan.

Cek cepat: tanda satu hal belum disepakati

Yang terjadi sehari-hari Hal yang perlu dibicarakan
Salah satu merasa bekerja jauh lebih banyak Hal 1, pembagian pekerjaan
Uang belanja dapur dan uang stok diambil dari tempat yang sama Hal 2, gaji dan pemisahan uang
Pesanan terus dibahas saat makan atau menjelang tidur Hal 3, batas jam usaha dan rumah
Pembelian besar baru diberi tahu setelah dibayar Hal 4, siapa memutuskan
Tidak ada yang yakin sejak kapan usaha mulai seret Hal 5, tinjauan berkala

Cara memulai obrolannya

  1. Pilih satu malam yang tidak sedang dikejar pesanan. Jangan sambil menghitung uang hari ini.
  2. Siapkan satu lembar kertas dengan lima judul di atas, lalu isi satu per satu. Boleh berhenti di hal ketiga dan melanjutkan besok.
  3. Tulis hasilnya dengan kalimat pendek, misalnya “Gaji dipindahkan tanggal 5, jumlahnya Rp4.500.000”. Kertas itu bukan perjanjian hukum, hanya pengingat bersama.
  4. Tinjau lagi sebulan kemudian. Kesepakatan yang tidak cocok boleh diganti; itu normal.

Kalau Anda ingin langsung mempraktikkannya, cara memisahkan uang usaha dan uang rumah ada di Uang Usaha dan Uang Rumah Tercampur?, dan cara menyusun anggaran saat penghasilan naik turun ada di Cara Membuat Anggaran Bulanan Berdua Saat Penghasilan Tidak Tetap.

Kalau Anda ingin memperdalam pengelolaan keuangan usaha kecil, silakan membaca artikel OJK tentang pengelolaan keuangan bagi pelaku UMKM.

Tulisan ini pengetahuan umum untuk membantu pasangan berdiskusi, bukan nasihat keuangan atau hukum. Untuk urusan modal, utang, atau pembagian harta bersama, pertimbangkan bertanya kepada pihak yang berwenang.

Tulisan lain tentang uang berdua ada di topik Keuangan Keluarga, dan pertanyaan untuk malam hari terkumpul di seri Obrolan Malam Berdua.

Cerpen Malam Berdua

Hari Minggu, warung tutup lebih awal. Sari membentangkan kertas bekas nota di meja dapur dan menulis satu kata besar-besar: GAJI.

“Kita ini kerja tiap hari, tapi uangnya satu laci,” katanya. “Tadi aku mau beli beras, bingung ambil dari mana.”

Bayu menggaruk kepala. “Ya ambil saja dari laci.”

“Itu dia. Kalau laci kosong, kita tidak tahu itu karena stok mahal atau karena kita jajan.”

Bayu terdiam, lalu mengangguk pelan. “Jadi gaji kita berapa?”

“Aku hitung dulu untung bulan lalu, baru kita bagi.” Sari menulis angka kecil-kecil. “Sebagian ke dompet rumah, sisanya tinggal di laci untuk stok.”

“Kalau aku mau beli sesuatu yang agak besar?”

“Bilang dulu. Di atas seratus ribu, kita putuskan berdua.”

Bayu tertawa. “Seperti rapat direksi.”

“Direksinya cuma dua orang,” jawab Sari, dan menyodorkan pulpen. “Tanda tangan di sini, atau tidak ada gorengan malam ini.”

Bayu menandatangani kertas itu dengan gaya berlebihan. Di luar, hujan mulai turun dan lampu warung dimatikan.


Obrolan Malam Ini
  • Pekerjaan apa di usaha yang paling terasa berat bagimu, dan siapa yang bisa menggantikan?
  • Menurutmu, berapa uang yang pantas masuk ke dompet rumah tiap bulan?
  • Jam berapa urusan usaha sebaiknya berhenti supaya kita bisa ngobrol hal lain?
  • Pembelian sebesar apa yang menurutmu perlu kita putuskan berdua?