Beda Pendapat soal Mengasuh Anak: Cara Menyatukannya

Dua studi besar di Inggris dan Amerika Serikat mengaitkan dukungan antarpasangan di masa bayi dengan masalah perilaku anak yang lebih sedikit delapan sampai sepuluh tahun kemudian, sebagian besar lewat cara orang tua saling mendukung dalam mengasuh. Jadi yang layak dibenahi lebih dulu bukan perbedaannya, melainkan cara Anda berdua menyelesaikannya.

Jawaban Singkat

Beda pendapat soal mengasuh anak biasanya terbantu oleh tiga hal: sepakat dulu di beberapa aturan inti, membagi wilayah untuk urusan lain, dan membicarakan perbedaan di luar telinga anak. Tidak ada cara yang cocok untuk semua pasangan. Tabel di bawah membandingkan tiga pilihan supaya Anda bisa memilih yang paling pas untuk keluarga Anda.

Apa yang ditemukan penelitian, dan apa yang belum

Penelitian yang dirujuk (Parkes, Green, dan Mitchell, 2019) menggunakan data dua kelompok keluarga yang diikuti bertahun-tahun, satu di Inggris (5.779 keluarga) dan satu di Amerika Serikat (2.069 keluarga). Pasangan yang saling mendukung ketika anak masih bayi cenderung memiliki anak dengan masalah perilaku lebih sedikit pada usia sekolah. Sekitar 55 sampai 60 persen kaitan itu berjalan lewat cara orang tua mengasuh dan saling mendukung dalam mengasuh pada usia anak tiga sampai lima tahun. Penulisnya menyimpulkan bahwa membantu orang tua saling mendukung dalam mengasuh kemungkinan dapat mengurangi dampak masalah hubungan di masa awal anak.

Batasnya perlu disebut jujur. Ini penelitian pengamatan, bukan percobaan, jadi menunjukkan keterkaitan, bukan sebab-akibat. Datanya dari luar Indonesia, dan penelitian itu tidak menguji cara tertentu untuk menyatukan beda pendapat. Tiga pilihan di bawah adalah saran redaksi berdasarkan akal sehat, bukan hasil studi.

Tiga cara menyikapi beda pendapat

Cara Isinya Kelebihan Kekurangan Cocok untuk
Satu aturan inti bersama Sepakati beberapa aturan yang sama dari kedua orang tua, misalnya jam tidur dan batas ponsel Anak melihat orang tua kompak Perlu waktu bicara berdua dan perlu diulang Pasangan yang perbedaannya menyangkut keselamatan atau kebiasaan harian
Bagi wilayah Satu orang memegang urusan tertentu, misalnya makan atau sekolah, yang lain memegang urusan lain Tidak perlu berunding untuk semua hal Bisa terasa tidak adil bila bebannya timpang Pasangan yang pembagian pekerjaannya sudah jelas
Mengalah bergantian Satu urusan mengikuti pendapat Anda, urusan berikutnya mengikuti pendapat pasangan Terasa adil dan mudah dimulai Bisa menumpuk rasa kesal bila tidak dicatat Pasangan dengan perbedaan kecil di banyak hal

Ketiganya boleh dipakai bersamaan: aturan inti untuk hal yang menyangkut keselamatan dan kebiasaan harian, wilayah untuk urusan lain, dan mengalah bergantian untuk sisanya.

Empat langkah menyatukannya

  1. Bicara berdua, di luar telinga anak. Saat anak sedang tidur atau sedang di tempat lain. Perbedaan yang dibicarakan di depan anak mudah berubah menjadi adu menang.
  2. Tulis dua daftar. Satu untuk hal yang Anda berdua setujui, satu untuk yang berbeda. Daftar itu membantu melihat bahwa Anda berdua tidak berbeda di semua hal.
  3. Pilih satu atau dua hal untuk disepakati lebih dulu. Jangan semua sekaligus. Mulai dari yang paling sering menimbulkan ribut.
  4. Tinjau setelah sebulan. Aturan yang tidak jalan boleh diganti. Tujuannya orang tua yang kompak, bukan aturan yang kaku.

Yang sebaiknya dihindari

  • Saling membatalkan aturan di depan anak.
  • Membandingkan dengan orang tua lain atau dengan orang tua pasangan.
  • Mengungkit kesalahan lama ketika membahas aturan baru.

Satu hal di luar urusan beda pendapat: kalau sudah ada makian, penghinaan, ancaman, pemaksaan, atau kekerasan terhadap anak maupun pasangan, itu bukan lagi soal pola asuh. Hubungi SAPA 129 Kementerian PPPA lewat telepon 129 atau WhatsApp 08-111-129-129.

Tulisan lain tentang hubungan ada di topik Keharmonisan Pasangan, dan pertanyaan untuk malam hari terkumpul di seri Obrolan Malam Berdua.

Cerpen Malam Berdua

Naya sudah dua kali minta tambah waktu menonton, dan dua kali Sari menjawab tidak. Lalu Bayu, dari sofa, berkata, “Sepuluh menit lagi saja, ya.”

Naya bersorak dan langsung memeluk bantal sofa. Sari menghela napas, menahan komentar, dan melanjutkan melipat baju sampai tumpukan terakhir.

Setelah Naya tidur, Sari duduk di sebelah Bayu. “Tadi aku bilang tidak, kamu bilang boleh. Naya jadi bingung ikut siapa.”

“Aku tidak enak melihatnya merengek.”

“Aku juga tidak enak. Tapi kalau aturannya berubah-ubah, besok dia merengek lagi.”

Bayu terdiam. “Jadi kita sepakat dulu. Jam berapa batasnya?”

“Setengah jam, habis makan malam.”

“Dan kalau aku mau mengubah?”

“Bilang ke aku dulu, jangan di depan Naya.”

Bayu mengangguk pelan. Sari mengambil kertas bekas nota dan menulis dua baris: setengah jam, habis makan malam. Kertas itu ia tempel di pintu kulkas, di samping jadwal belanja. Tidak ada yang menyebut siapa yang salah tadi, dan malam itu rumah terasa lebih tenang dari biasanya.


Obrolan Malam Ini
  • Aturan apa yang menurutmu paling sering berubah-ubah di rumah kita?
  • Kapan terakhir kita berbeda pendapat tentang anak, dan bagaimana kita menyelesaikannya?
  • Hal apa yang ingin kamu pegang sendiri, dan hal apa yang boleh aku putuskan?
  • Bagaimana caranya kita memberi tahu satu sama lain bila tidak setuju, tanpa di depan anak?